Tampilkan postingan dengan label Kisah Muallaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Muallaf. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Agustus 2013

Mantan Pendeta Menemukan Kebenaran

Sebagai pakar teologi, Pendeta Yahya Yopie Waloni sangat mengetahui teori-teori yang ada dalam agama Islam. Meskipun masih beragama Kristen, Yahya memandang teori apa pun yang ada di Islam sangat benar. Islam pun, mampu menceritakan peradaban dunia dari yang lalu sampai sekarang. Bahkan, agama Kristen diceritakan pula dalam Islam.

Namun, menurut pria kelahiran Manado tahun 1970 ini, yang paling membuatnya tunduk patuh hingga memutuskan untuk masuk Islam pada Oktober 2006 adalah Islam menunjuk satu individu yang sangat tepat untuk menyebarkan ajarannya. "Ada satu individu yang membuat saya tunduk dan patuh, dia buta huruf tapi bisa menyusun Alquran secara sistematis.

Menurut suami dari Lusiana (33) yang mengganti namanya menjadi Mutmainnah setelah memeluk Islam itu, dirinya masuk agama islam karena dari sistematika teori Islam sudah benar. Sebagai akademisi, kata dia, dirinya pun berpikir orang yang sudah memili teori benar saja bisa salah apalagi yang tidak memiliki teori yang benar. "Orang Islam yang sudah memiliki teori yang benar saja bisa salah apalagi yang tidak memiliki teori benar. Jadi, saya mengakui Islam secara teori dan spiritual.

Kamis, 22 Agustus 2013

Perjalanan Anak Islam Papua


Nama dan Tempat Lahir

Selama ini saya dikenal sebagai Ismail Asso. Tapi dalam ijazah saya tercatat dengan nama Isman Asso. Saya lahir di Kampung Werasikiwa, Dusun Assolipele Distrik /AssolokobalWalesi Wamena Kabupaten Jayawi Jaya Papua. Dusun Assolipele Distrik Walesi kira-kira 6 Km dari Selatan Kota Wamena. Kapan persisnya saya lahir tidak tercatat, karena lingkungan keluarga belum tahu baca tulis. Tapi peristiwa perang tahun 1977 saya tidak ikut mengalami. Karena itu dapat diperkiran disini saya lahir pada tahun 1975 atau 1976. Tanggal dan bulan berapa persisnya saya lahir tidak pernah tahu berlangsung terus-menerus hingga akhir hayat nanti.

Sebenarnya pemberian namaku oleh orang tua lain dari nama diijazah. Pemberian nama dalam budaya Suku Dani terkait erat dengan peristiwa penting untuk dikenang. Nama adalah harapan demikian pemberian nama oleh orang tua. Demikian dengan pemberian nama saya oleh orangtuaku. Saya diberi nama Nasike: Na (ku), Sike (panah;). Jadi Nasike = "Panahku". Jika diperhatikan dari arti nama ini dalam bahasa Dani Lembah Baliem menunjukkan ada harapan orang tua, bahwa kelak besar dikemudian hari nanti saya diharapkan menjdi penjaga dusun atau dapat juga berarti penjaga/pemelihara clan Assolipele dari perebutan musuh atau pemelihara clan dalam tradisi perang suku. Dapat pula berarti mengganti fungsi orangtua sebagai pendiri Dusun Assolipele. Karena panah adalah simbol pertahanan/penjaga diri dalam perang Suku di Lembah Balim Jayawi Jaya yang terkenal sampai di manjaganegara itu.